Kakankemenag Donggala: Guru Harus Menjadi Agen Transformasi Spiritual dan Sosial
Ket: Workshop Penyusunan Kurikulum dan Perangkat Pembelajaran Berbasis Cinta
Donggala (Kemenag Sulteng) - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Donggala, H. Haerolah Muh. Arief, menegaskan bahwa guru di era modern tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai agen transformasi spiritual dan sosial yang mampu membentuk karakter peserta didik.
Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Workshop Penyusunan Kurikulum dan Perangkat Pembelajaran Berbasis Cinta yang diselenggarakan MTs Negeri 3 Donggala, Senin (3/8/2026).
Kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah itu dihadiri oleh Kasi Pendis Kemenag Donggala, H. Burhan Munawir, pengawas madrasah, serta para guru yang menjadi peserta workshop.
Dalam arahannya, Haerolah menekankan bahwa tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang menuntut para pendidik untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan kompetensinya. Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar mentransfer ilmu pengetahuan.
"Guru bukan lagi sekadar agen transfer ilmu pengetahuan, melainkan agen transformasi spiritual dan sosial bagi para siswa," tegasnya.
Ia menjelaskan, perkembangan zaman mengharuskan guru memiliki wawasan yang lebih luas dan mampu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam proses pembelajaran. Karena itu, guru tidak lagi cukup menguasai satu bidang ilmu saja, tetapi harus mampu berpikir dan mengajar secara multidisipliner.
"Saat ini guru dituntut tidak hanya berpikir secara monodisipliner, tetapi juga multidisipliner agar mampu menjawab kebutuhan pendidikan masa kini," ujarnya.
Lebih lanjut, Haerolah menuturkan bahwa pembelajaran yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan metode mengajar, tetapi juga oleh terciptanya lingkungan belajar yang harmonis. Menurutnya, proses pembelajaran perlu diawali dengan niat beribadah, didukung kondisi peserta didik yang sehat secara fisik maupun mental, serta dibangun melalui komunikasi dua arah antara guru dan siswa. Selain itu, suasana kelas yang bersih, rapi, indah, dan sehat, disertai penerapan metode pembelajaran yang inovatif, akan menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan menyenangkan.
Melalui Workshop Penyusunan Kurikulum dan Perangkat Pembelajaran Berbasis Cinta ini, Haerolah berharap para guru MTs Negeri 3 Donggala mampu menyusun kurikulum dan perangkat pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga menguatkan nilai-nilai cinta, membentuk karakter, serta menumbuhkan kepedulian sosial peserta didik sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

.jpeg)
