Kakankemenag Banggai Laut Dorong Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta Menjadi Budaya Madrasah
Ket: Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta
Banggai Laut (Kemenag Sulteng) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banggai Laut, H. Riatman A. Nursin, menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) harus menjadi budaya di lingkungan madrasah, bukan sekadar program yang bersifat administratif.
Penegasan tersebut disampaikan Kakankemenag saat memberikan sambutan pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang dilaksanakan di MTs Negeri 2 Banggai Laut, Sabtu (25/07/2026).
Menurutnya, madrasah memiliki keistimewaan karena tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga berperan membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, mencintai bangsa, menghargai keberagaman, serta peduli terhadap lingkungan.
Ia juga menyoroti pesatnya perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) yang telah mengubah cara belajar peserta didik. Namun demikian, kemajuan teknologi tidak dapat menggantikan peran guru sebagai pembimbing, teladan, motivator, sekaligus pembentuk karakter.
"Teknologi dapat membantu mencari informasi dan menyusun materi pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan kasih sayang, doa, perhatian, dan keteladanan seorang guru," ungkapnya.
Mengutip hadis Rasulullah SAW tentang penyempurnaan akhlak, Riatman mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Karena itu, setiap guru tidak hanya bertanya mengenai materi yang akan diajarkan, tetapi juga nilai-nilai yang akan ditanamkan kepada peserta didik dalam setiap proses pembelajaran.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta dibangun di atas lima nilai utama, yakni cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Rasulullah SAW, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada bangsa dan negara, serta cinta kepada lingkungan. Nilai-nilai tersebut diharapkan hadir dalam setiap aktivitas pembelajaran dan menjadi budaya yang hidup di madrasah.
Kakankemenag juga mengajak seluruh unsur madrasah untuk berkolaborasi dalam menyukseskan implementasi KBC. Menurutnya, kepala madrasah harus menjadi pemimpin yang melayani, guru menjadi pendidik yang menginspirasi, tenaga kependidikan memberikan pelayanan yang ramah, pengawas menjadi mitra pembinaan, serta orang tua menjadi sahabat madrasah dalam mendidik karakter anak.
Ia berharap kegiatan Bimtek tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah.
" Saya mengajak seluruh peserta untuk menjadikan budaya senyum, salam, sapa, disiplin, kejujuran, gotong royong, kepedulian, dan pelayanan sebagai identitas madrasah, sehingga mampu melahirkan generasi yang unggul, adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap kokoh berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan". pungkasnya. (MH)




