Logo

Makna Iduladha 1447 H, Merawat Kemanusiaan dan  Menjaga Kelestarian Alam

Ket: Makna Iduladha 1447 H, Merawat Kemanusiaan dan  Menjaga Kelestarian Alam


Parigi(kemenag sulteng)-Ratusan Warga Masyarakat Parigi dan sekitarnya melaksanakan Shalat Iduladha 1447 H, di halaman Kantor Bupati Parigi Moutong, Rabu 27 mei 2026.

Pada penyelenggaraan Shalat Iduladha tahun 1447 bertindak sebagai Imam Ketua Majelis Ulama Indonesia kabupaten Parigi Moutong Drs. H Sudirman Tjora dan Khatib Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten Parigi Moutong H. As'at Latopada.

Kepala Kantor Kemenag Parigi Moutong H. As'at Latopada dalam isi ktubahnya menyampaikan bahwa Perayaan  Iduladha   memiliki  makna  yang  dalam, untuk mengenang  pengorbanan  luar biasa yang  ditunjukkan  oleh  Siti  Hajar  demi  menemukan  sumber  kehidupan Air Zam-zam.

Pengorbanan  Nabi  Ibrahim  dan  putranya  yang  tercinta,  Nabi  Ismail  Alaihisalam. Kisah  ini mempersembahkan  pelajaran  berharga  tentang  iman  yang  teguh,  pengorbanan,  dan  penyerahan  diri  kepada kehendak  Allah  SWT. Kisah  seorang  pejuang  perempuan  yang  hidup  ribuan  tahun  silam yang harus  rela  berlari-lari  antara  Safa  dan  Marwah  demi  menemukan  sumber  kehidupan  yakni  mata  air, yang akhirnya  perjuangan  Allah menjawab perjuangannya dengan  ditemukannya  sumur  zam-zam.

Sebagai  wujud  penghargaan  hingga  kini  momentum  tersebut  terus  diamalkan  dalam  ritual  ibadah  haji  oleh jutaan  manusia  dengan  melakukan  Sa’i. Puncaknya  dengan  begitu  mantap  Ismail  Remaja rela  .disembelih  sang  ayah  Ibrahim demi  wujud ketundukan mereka kepada pada  Sang  Khalik. Betapa  mereka lebih  mementingkan  kepentingan  Allah  Swt  daripada  kepentingan  dirinya. Momentum  tersebut kemudian  diperingati  setiap  tahunnya  oleh jutaan manusia dengan  Hari Raya Iduladha. Ibunda  Siti  Hajar,  Nabi  Ibrahim,  dan  Nabi  Ismail  mengajarkan  kita  tentang  esensi  pengorbanan,  kepatuhan,  dan  cinta  yang  tulus  kepada  Sang  Pencipta. 

As'at Latopada menegaskan Jika umat Islam mentadabburi  lebih  dalam akan syariat  qurban  yang  kita  jalankan  hari  ini  bukan  sekadar  ritual  menyembelih  hewan  ternak. 

Namun Ada  dua  pesan  besar  yang  sangat  relevan  dengan  kondisi  dunia  kita  saat  ini:  yaitu  Merawat Kemanusiaan dan  Menjaga Kelestarian Alam. Merawat Kemanusiaan: Berbagi dan Peduli yakni Melalui  ibadah  qurban,  Allah  SWT  mengajarkan  kita  untuk  meruntuhkan  dinding  egoisme  dan  sifat  kikir. Daging  qurban  yang  kita  sembelih  hari  ini  tidak  boleh  ditumpuk. 

Islam  sangat melarang  kita  menutup  mata  terhadap  penderitaan  sesama. Di  sekitar  kita,  masih  banyak  saudara saudara  kita  yang  berjuang  menghadapi  himpitan  ekonomi,  kemiskinan,  dan  kesulitan  hidup. 

Qurban  adalah  momentum  emas  untuk  mengasah  kepekaan  sosial  kita. Melalui  sebungkus  daging  qurban,  kita  dapat mengalirkan  kebahagiaan,  menyambung  tali  silaturahmi.Hal ini menegaskan  bahwa  tidak  ada  sekat  di  antara  Si  kaya  dan  si  miskin  , sama-sama  tersenyum  hari  Iduladha. Inilah  wujud  nyata  dari  merawat  kemanusiaan,  menumbuhkan  empati  di  tengah  dunia  yang  kian  individualis.

Kemudian Merawat Alam Menjaga Keseimbangan Semesta. Dimensi  kedua  yang  tidak  kalah  penting  dari  Idul  Adha  adalah  hubungan  kita  dengan  alam.  Hewan-hewan  yang  kita  qurbankan  hari  ini baik  sapi,  kambing,  maupun  unta adalah  bagian  dari  ekosistem  alam  yang  diciptakan  Allah  untuk  menopang  kehidupan  manusia. Islam  adalah  agama  Rahmatan lil 'Alamin rahmat  bagi  seluruh  alam  semesta,  bukan  hanya  untuk  manusia.  Allah  SWT  telah  mempercayakan  bumi  ini  kepada  Manusia sebagai  khalifah di muka bumi .

Tugas  utama  seorang  khalifah  adalah  merawat,  memakmurkan,  dan  menjaga  keseimbangan  bumi bukan  merusaknya. Tanggung  jawab  ini  menegaskan  bahwa  merawat  dan  melestarikan  alam  merupakan  bagian  dari  ibadah  dan  bentuk  ketaatan  kepada  Allah.  Merusak  lingkungan  merupakan  bentuk  pelanggaran  terhadap  amanah  Allah,  karena  dampaknya  tidak  hanya  merusak  ekosistem,  tetapi  juga  mengancam  kehidupan  makhluk  lain  dan  keadilan  sosial. 

Oleh  karena  itu  penting  untuk  menguatkan  nilai-nilai  ekoteologi  dalam  setiap  individu. Penguatan  ekoteologi  akan  membangkitkan  kesadaran  spiritual  sehingga  kita lebih  peduli  terhadap  kelestarian  bumi,  mengubah  cara  pandang  dari  eksploitasi menjadi  konservasi,  serta  menata kehidupan  sosial dan ekonomi  secara  adil  dan berkelanjutan.

Wujud  dari  kuatnya  ekoteologi  yang  tertanam  dalam  diri  kita  dapat  diwujudkan  dalam  berbagai  bentuk,  seperti  gerakan  penghijauan,  pengelolaan  sampah  yang  ramah  lingkungan,  dakwah  tentang  kesadaran ekologis dan  sikap  hemat  energi  serta  air dalam  kehidupan  sehari-hari.

Ekoteologi  hadir  sebagai  pengingat  bahwa  bumi  adalah  amanah  Allah  yang  harus  dijaga  dan  dilestarikan. Menyelamatkan  lingkungan  berarti  menjaga  keberlangsungan  hidup  seluruh  makhluk  dan  sekaligus mengabdikan  diri kepada  Allah.

Oleh  karena  itu mari  kita  jadikan  Iduladha  tahun  ini  sebagai  momentum  untuk  melakukan  "Qurban Ekologis" dan  "Qurban Sosial". Kita  korbankan  ego  pribadi  kita  untuk  menjaga  kebersihan  bumi. Kita  korbankan  sebagian  harta  kita  untuk  membantu  sesama  manusia.

Hadir pada pelaksanaan Shalat Iduladha Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase, Para Kepala OPD, Pimpinan Organisasi Keagamaan, tokoh masyarakat (Ahdal).

HUBUNGI KAMI

JL. Prof Moh Yamin, Birobuli Utara, Kec. Palu Selatan Kota Palu, Sulawesi Tengah 94231

0811-5880-7272

kanwilsulteng@kemenag.go.id

TAUTAN TERKAIT

CHAT KAMI (Klik Sekarang)

Beranda

Download Informasi Penting

PPID

Permohonan Data

IKUTI KAMI
Statistik Pengunjung
👤 User Aktif (Realtime)
0
📅 Total Hari Ini 595
🗓️ Total Bulan Ini 17,999
🌍 Total Keseluruhan 395,911

Delay data User Aktif (10 detik - 1 menit)

Delay data Total (1 jam - 24 jam)



2023 © Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah HTML Codex