Kabid Penmad Kemenag Sulteng Dorong Implementasi KBC di MTsN 1 Banggai
Ket: Implementasi dan Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KCB) di MTsN 1 Banggai
Banggai (Kemenag Sulteng). “Penanaman nilai-nilai humanis, moderasi beragama dan penguatan karakter harus terus kita tanamkan kepada peserta didik. Sikap saling menghargai dan mencintai lingkungan madrasah menjadi bagian penting yang perlu kita tonjolkan”. Ujar Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sulteng, H. Muh. Syamsu Nursi dalam sambutannya pada kegiatan Implementasi dan Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di MTsN 1 Banggai. Kamis (5/3/2026).
Beliau menyampaikan bahwa KBC merupakan bagian dari instruksi Menteri Agama Republik Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025. Oleh karena itu, seluruh satuan pendidikan madrasah diharapkan dapat mengimplementasikan kurikulum tersebut secara optimal dalam proses pembelajaran.

“Kurikulum Berbasis Cinta ini merupakan instruksi langsung dari Bapak Menteri Agama melalui KMA Nomor 1503 Tahun 2025. Tentunya kita harus menjalankan apa yang menjadi kebijakan tersebut di lingkungan madrasah,” ujarnya.
Ia menjelaskan dalam penerapannya, peran guru menjadi sangat penting sebagai ujung tombak dalam proses pendidikan. Guru diharapkan mampu menyampaikan materi pembelajaran dengan pendekatan yang penuh kasih sayang dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik.
“Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, guru dituntut menyampaikan materi pembelajaran dengan pendekatan yang penuh rasa, hangat dan menyenangkan, sehingga peserta didik dapat belajar tanpa rasa takut selama proses pembelajaran di kelas,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa nilai-nilai pembelajaran yang humanis terus ditekankan dalam pendidikan madrasah, termasuk penguatan moderasi beragama serta pembentukan karakter peserta didik.
Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Banggai, H. Suardi Kandjai menyampaikan bahwa Program ini menitikberatkan pada tiga pilar utama, yakni nilai kasih sayang, toleransi dan empati sebagai fondasi dalam membangun lingkungan pendidikan yang harmonis dan berkarakter.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut sangat penting untuk ditanamkan dalam proses pendidikan agar tercipta suasana belajar yang damai, saling menghargai, serta jauh dari konflik di lingkungan sekolah.

“Nilai-nilai dalam Kurikulum Berbasis Cinta ini sangat luar biasa. Artinya, apabila dalam sebuah satuan kerja nilai cinta dan kasih sayang benar-benar diwujudkan, maka tidak akan ada permusuhan yang terjadi di dalamnya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa implementasi KBC tidak hanya diperuntukkan bagi peserta didik, tetapi juga harus menjadi budaya bagi para tenaga pendidik di lingkungan sekolah.
“Saya mengharapkan perwujudan Kurikulum Berbasis Cinta ini tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga harus diterapkan oleh para guru. Dengan begitu, seluruh ekosistem pendidikan dapat berjalan secara humanis, inklusif dan ramah anak,” tambahnya.
Melalui penguatan Kurikulum Berbasis Cinta ini, diharapkan lembaga pendidikan di lingkungan Kementerian Agama dapat menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi peserta didik, sekaligus membentuk generasi yang berakhlak, toleran, serta siap menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045.
Kegiatan yang mengusung tema “Mewujudkan Ekosistem Pendidikan yang Humanis, Inklusif dan Ramah Anak Menuju Generasi Emas 2045” turut dihadiri oleh Pengawas Madrasah, Bapak Rahmat Lasaka selaku Pemateri terkait Teknis Kurikulum Merdeka Terintegrasi KBC, dan Kepala MTsN 1 Banggai bersama 56 Tenaga Pendidik MTsN 1 Banggai.
.png)
