Workshop Kurikulum Berbasis Cinta, Enam Madrasah di Poso Mulai Susun Perangkat Pembelajaran
Ket: Kepala Kantor Kemenag Poso, Sutami M. Idris.
Poso (Kemenag Sulteng) – Perangkat pembelajaran Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mulai disusun oleh perwakilan enam madrasah se-Kabupaten Poso melalui workshop yang digelar di Aula MAN 1 Poso, Kamis (12/02/2026). Penyusunan ini diarahkan untuk menghadirkan lingkungan belajar yang ramah lingkungan, bebas kekerasan, serta mendukung kesejahteraan mental dan spiritual peserta didik.
Workshop Implementasi KBC tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Poso, Sutami M. Idris, yang menyampaikan arah kebijakan sekaligus memaparkan tiga indikator utama dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta.
"Ada tiga indikator kurikulum berbasis cinta itu, yang pertama adalah madrasah ramah lingkungan," ujarnya.
Madrasah ramah lingkungan mengacu pada konsep ekoteologi yang dicanangkan Menteri Agama. Pengelolaan sampah secara efektif diarahkan untuk menciptakan suasana belajar yang asri, damai, dan menarik. Tidak hanya pada aspek fisik, semangat cinta lingkungan dan kedisiplinan pribadi turut dibangun sebagai pondasi pembentukan karakter siswa yang bertanggung jawab.
Indikator kedua adalah madrasah ramah anak. Lingkungan pendidikan yang anti-kekerasan, bebas perundungan (bullying), serta terhindar dari pelecehan seksual menjadi bagian dari implementasi KBC di satuan pendidikan.
"Kita menghadapi Generasi Z dan Generasi Alpha yang membutuhkan pendekatan emosional serta psikologis. Pengawalan terhadap anak-anak di era media sosial sangat krusial agar mereka tidak terjerumus pada hal negatif," katanya.

Melalui KBC, pembinaan terukur dituntut dilakukan madrasah guna menjaga mentalitas generasi muda di tengah derasnya arus media sosial.
Indikator ketiga diarahkan pada terciptanya peserta didik yang sejahtera secara mental dan spiritual atau holistik. Keseimbangan aspek akademik, karakter, dan kesehatan batin menjadi tujuan yang diupayakan dalam implementasi kurikulum tersebut.
Di akhir arahannya, Sutami memberi motivasi kepada para tenaga pendidik agar terus mengembangkan profesionalitas melalui berbagai pelatihan.
"Kami berharap para guru tetap bersemangat mengikuti kegiatan ini. Profesi guru adalah amanah yang harus dijalankan secara profesional, sehingga setiap pelatihan dan kegiatan pengembangan diri perlu dimanfaatkan secara optimal," pungkasnya.
