Jangan Mengharapkan Siswa Terbang Tinggi Kalau Sayapnya Tak Pernah Dilatih
Ket: Potensi seorang murid tidak cukup hanya diharapkan, tetapi harus dilatih dan dibina secara konsisten.
Pertanyaan yang sederhana tetapi penting untuk kita renungkan bersama: ”Seberapa serius kita mempersiapkan siswa untuk menjadi juara?”
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat persaingan di berbagai ajang olimpiade siswa madrasah. Ketika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan, maka sering kali perhatian pertama tertuju kepada siswa. Mereka dianggap kurang belajar, kurang berlatih, kurang percaya diri, atau belum memiliki kemampuan yang cukup. Tetapi benarkah masalahnya hanya ada pada siswa? Saya kira kita perlu melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas.
Semua anak hebat dan semua siswa adalah potensi. Ibarat burung yang memiliki sayap. Namun, memiliki sayap saja tidak cukup untuk membuat seekor burung terbang tinggi. Sayap itu harus dilatih, dikuatkan, dan digunakan secara terus-menerus. Begitu pula halnya dengan siswa. Dalam kompetisi akademik, khususnya olimpiade, tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan. Siswa butuh proses pembinaan yang panjang.
Olimpiade bukan ajang yang dapat dipersiapkan siswa dengan menghafal materi atau menyelesaikan beberapa soal dalam waktu yang singkat. Siswa membutuhkan pembiasan berpikir yang logis, analisis, kritis, dan kreatif. Mereka perlu mengikuti try out dan kompetisi. Mereka perlu mendapatkan pendampingan dari guru yang memahami karakter olimpiade. Mereka juga perlu memahami karakter soal olimpiade yang berbeda jauh dengan materi-materi yang susah diajarkan dalam pembelajaran.
Sayangnya, pembinaan terkadang baru dilakukan ketika lomba sudah semakin dekat.Siswa baru dikumpulkan ketika nama-nama peserta sudah harus ditentukan. Guru pembimbing mulai mencari materi. Soal-soal latihan mulai diberikan. Jadwal latihan dibuat lebih padat. Lalu kita berharap mereka mampu mengalahkan siswa dari sekolah yang sudah melakukan pembinaan secara rutin selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Ketika prestasi madrasah dalam olimpiade tertinggal, hal pertama yang harus kita hindari adalah menyalahkan siswa, mereka tidak dapat dituntut memiliki prestasi tinggi apabila lingkungan yang mendukung tidak sesuai. Kita harus berhati-hati dalam menilai kegagalan siswa. Ketika seorang siswa kalah dalam kompetisi, bukan berarti ia tidak pintar. Bisa jadi ia belum mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. Potensi yang besar membutuhkan lingkungan yang tepat. Mereka membutuhkan pemetaan bakat sejak dini, program pembinaan berjenjang , guru pembimbing yang memiliki kompeten, serta materi yang sesuai standar olimpiade.
Siswa yang memiliki kemampuan matematika luar biasa membutuhkan pembinaan matematika. Siswa yang memiliki kemampuan sains membutuhkan mentor yang tepat. Siswa yang memiliki kemampuan bahasa membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemampuannya.
Jika semua itu tidak tersedia, maka kita sebenarnya sedang meminta siswa bertanding dengan senjata yang tidak seimbang. Jika potensi tersebut tidak ditemukan sejak dini, tidak dibina secara konsisten maka jangan heran jika potensi itu tidak berkembang menjadi prestasi.
Disisi lain guru pembimbing bukan hanya sekedar menjadi pendamping, namun pembimbing harus menjadi pelatih. Di sinilah peran kita sebagai pembimbing menjadi sangat penting. Guru pembimbing olimpiade tidak cukup hanya hadir ketika jadwal latihan dimulai. Ia harus mampu menjadi pelatih, mentor, sekaligus motivator bagi siswa. Guru harus membangun ikatan emosional dengan siswa, guru harus memahami pola kompetisi, karakter soal, strategi penyelesaian masalah, dan perkembangan materi. Begitu juga dalam meningkatkan kompetensinya. Karena tidak adil jika kita meminta guru menghasilkan juara, tetapi guru tidak diberikan kesempatan untuk meningkatkan kapasitasnya. ”Bagaimana mungkin kita meminta siswa berlari lebih cepat jika pelatihnya sendiri tidak pernah diberikan kesempatan untuk belajar tentang teknik berlari?” Karena itu, pembinaan siswa dan pembinaan guru harus berjalan beriringan.
Kementerian Agama dan Madrasah juga harus bercermin dan melakukan evaluasi terbuka dan membangun sistem pembinaan berkelanjutan, bukan hanya pembinaan menjelang kompetisi. Persoalan ini tidak boleh hanya dibebankan kepada guru. Apakah program pembinaan sudah dilakukan sepanjang tahun? Apakah siswa berbakat sudah dipetakan sejak dini? Apakah guru pembimbing mendapatkan pelatihan? Apakah tersedia anggaran yang cukup? Apakah fasilitas pembinaan memadai? Apakah hasil kompetisi tahun sebelumnya benar-benar dianalisis?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena prestasi siswa sebenarnya merupakan hasil dari sebuah ”ekosistem pendidikan”. Tidak mungkin kita menginginkan prestasi yang tinggi apabila sistem pendukungnya masih berjalan seadanya. Salah satu kekeliruan yang harus kita tinggalkan adalah budaya "sibuk ketika lomba sudah dekat." Prestasi tidak dibangun ketika perlombaan dimulai. Prestasi dibangun jauh sebelumnya.
Kekalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi. Kalah bukanlah akhir. Yang berbahaya justru ketika kita kalah tetapi tidak pernah mengevaluasi mengapa kita kalah. Setiap kompetisi harus menghasilkan pertanyaan: ”Apa yang kurang dari siswa kita?”, ”Apa yang kurang dari guru pembimbing kita?” ”Apa yang kurang dari sistem pembinaan kita?” ”Apa yang harus diperbaiki tahun depan?”
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah dijawab secara serius, maka jangan heran apabila kita akan mengulang kekalahan yang sama setiap tahun. Evaluasi bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Evaluasi adalah cara untuk menemukan apa yang harus diperbaiki. Kita tidak boleh membangun stigma bahwa siswa madrasah kalah bersaing karena mereka kurang cerdas. Tidak. Banyak siswa madrasah memiliki kemampuan luar biasa. Yang mungkin belum optimal adalah ”sistem yang menemukan, melatih, dan mengembangkan kemampuan tersebut.” Karena itu, tugas kita bukan sekadar mencari siswa yang sudah hebat. Tugas kita adalah ”membentuk siswa agar menjadi hebat.” Dan proses itu membutuhkan waktu, kesabaran, sumber daya, guru yang kompeten, pimpinan yang peduli, serta kebijakan yang benar-benar mendukung.
Pada akhirnya, ketika kita melihat siswa madrasah belum mampu meraih prestasi yang diharapkan dalam olimpiade, jangan buru-buru bertanya: "Mengapa mereka kalah?" Mari kita bertanya lebih dahulu: "Sudahkah kita melatih mereka dengan sungguh-sungguh?" Sebab kita tidak bisa menuntut siswa terbang tinggi jika selama ini mereka hanya diminta berdiri di dahan. Kita tidak bisa menuntut mereka memenangkan kompetisi jika latihan baru dimulai ketika perlombaan sudah di depan mata. Dan kita tidak bisa menyalahkan mereka ketika sayap yang mereka miliki belum pernah benar-benar dilatih.
”Jangan mengharapkan siswa terbang tinggi kalau sayapnya tak pernah dilatih.”
Kalau kita ingin melihat siswa madrasah terbang lebih tinggi, maka tugas kita adalah memperkuat sayap mereka: ”perbaiki pembinaan, tingkatkan kompetensi guru, petakan bakat sejak dini, siapkan fasilitas, berikan dukungan anggaran, dan lakukan evaluasi secara serius.” Sebab anak-anak itu sebenarnya memiliki sayap. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, latihan, dan sistem yang percaya bahwa mereka mampu terbang tinggi.
”Madrasah hanya membutuhkan sistem yang serius untuk menemukan, membina, dan mengantarkananak-anak hebat itu menjadi juara”
Penulis: Nur Dewi Fattah
MTs Negeri 4 Kota Palu
Madrasah Sehati Bintang Utara
#MadrasahHebat
#OlimpiadeMadrasahIndonesia
#PendidikanMadrasah
#PembinaanPrestasi
#EvalausiMadrasah
#KementerianAgama
#GuruPembimbing