Inspirasi Guru di TPN XIII: Kakan Kemenag Buol Gaungkan Pesan 3M untuk Masa Depan Pendidikan
Ket: Temu Pendidikan Nusantara (TPN) XIII Kabupaten Buol
Buol – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buol, Nurkhairi, hadir dan didapuk sebagai pembicara dalam perhelatan Temu Pendidikan Nusantara (TPN) XIII Kabupaten Buol. Berlangsung di Aula Kantor Bupati Buol, Sabtu (20/6/2026), kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi pemerintah, pendidik, komunitas, dan masyarakat untuk merajut kolaborasi mewujudkan pendidikan yang maju, inklusif, dan berdaya saing global.
Mengusung tema utama "Cita-Cita Kolektif, Kewargaan Dunia", acara ini menghadirkan berbagai tokoh pendidikan dan pemangku kebijakan. Mereka berkumpul untuk saling berbagi gagasan, pengalaman, dan strategi dalam memperkuat ekosistem pendidikan di daerah.
Dalam momen bincang tersebut, Kakan Kemenag Buol Nurkhairi menyampaikan gagasan kunci yang memotivasi para hadirin. Ia memberikan pesan khusus berupa konsep 3M kepada seluruh peserta TPN, yakni Mulai dari yang Kecil, Mulai dari Diri Sendiri, dan Mulai dari Sekarang. Ia menegaskan pentingnya aksi nyata tanpa harus menunda waktu demi kemajuan generasi bangsa.
"Perubahan besar dalam dunia pendidikan tidak akan pernah tercipta tanpa adanya keberanian untuk mengambil langkah pertama. Jangan menunggu sistem yang berubah, tetapi mari kita ubah apa yang bisa kita jangkau. Terapkan prinsip 3M ini di ruang-ruang kelas kita mulai hari ini," ujar Nurkhairi di hadapan para peserta.
Pesan ini menjadi seruan moral bagi seluruh pendidik agar tidak terpaku menunggu perubahan besar yang datang dari luar. Sebaliknya, Nurkhairi mengajak para pendidik untuk mengambil langkah nyata dari hal-hal sederhana yang dimulai dari diri sendiri dan dilakukan detik ini juga demi menciptakan wajah pendidikan yang lebih baik.

Terkait topik "Membangun Ekosistem Pendidikan Kolaboratif Untuk Mewujudkan Generasi Desa Dunia," Nurkhairi menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan sebuah konsep yang mengingatkan kita bahwa di era modern ini, sekat-sekat antarnegara telah menipis. Melalui teknologi dan internet, apa yang terjadi di belahan bumi lain bisa berdampak langsung pada kehidupan kita, membuat dunia terasa seperti satu desa besar yang saling terhubung.
"Di sinilah prinsip Berpikir Global, Bertindak Lokal (Think Globally, Act Locally) menjadi fondasi utamanya," terangnya.
Nurkhairi pun mengungkapkan, kewargaan desa dunia mengajak segenap pihak menjadi manusia yang berwawasan luas tanpa kehilangan identitas dan kepedulian terhadap tanah kelahiran.
"Kita melihat tantangan dunia dengan kacamata global, lalu menyelesaikannya dengan langkah nyata di depan mata," pungkasnya.
