MTsN 1 Buol Gelar Shalat Istisqa, Ikhtiar di Tengah Kekeringan dan Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta
Ket: Pelaksanaan Shalat Istisqa Seluruh Warga MTs Negeri1 Buol
Di tengah kondisi Kabupaten Buol yang telah lama tidak diguyur hujan dan mengalami kekeringan, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Buol melaksanakan shalat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama untuk memohon rahmat serta turunnya hujan kepada Allah ﷻ
Kegiatan shalat Istisqa diikuti oleh seluruh warga MTsN 1 Buol dengan penuh kekhusyuan. Bapak Mursalin, bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Pelaksanaan shalat Istisqa menjadi momentum bagi warga madrasah untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat yang terdampak kekeringan.

Dalam khutbahnya, Bapak Mursalin mengingatkan bahwa shalat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar seorang hamba ketika menghadapi kondisi kekeringan. Manusia diajak untuk menyadari keterbatasan dirinya dan semakin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ
Kepala MTsN 1 Buol, Aqil Budiaji, menyampaikan bahwa pelaksanaan shalat Istisqa tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari proses pendidikan karakter peserta didik di madrasah.
“Melalui shalat Istisqa ini, kami ingin mengajarkan kepada peserta didik bahwa dalam setiap keadaan kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, memperbanyak doa dan istighfar, serta tetap melakukan ikhtiar. Ini juga menjadi bagian dari pendidikan karakter yang kami tanamkan di madrasah,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti shalat Istisqa memiliki keterkaitan erat dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang saat ini dikembangkan di madrasah. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik yang memiliki kecintaan kepada Allah ﷻ, sesama manusia, dan lingkungan.
“Nilai cinta kepada Allah diwujudkan melalui ibadah dan doa. Cinta kepada sesama ditumbuhkan melalui kebersamaan dan kepedulian, sementara cinta kepada lingkungan diwujudkan dengan kesadaran untuk menjaga alam sebagai amanah dari Allah ﷻ,” tambahnya.
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam kegiatan tersebut juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk mendapatkan pengalaman belajar yang kontekstual. Nilai-nilai keagamaan tidak hanya disampaikan melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari.