Kakanwil Kemenag Sulteng Tegaskan Pentingnya Publikasi Kegiatan yang Berdampak
Ket: Kakanwil Kemenag Sulteng, H. Junaidin saat memberi arahan pada Upacara Hari Kesadaran setiap tanggal 17 yang dihadiri oleh Pejabat Administrator, Pejabat Fungsional, Pelaksana dan ASN Kanwil Kemenag Sulteng yang dilaksanakan di Halaman Kanwil Kemenag Sulteng. Kamis, 17/9
Palu (Kemenag Sulteng) – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Tengah, H. Junaidin, menegaskan pentingnya setiap satuan kerja (satker) di lingkungan Kemenag Sulteng meningkatkan publikasi kegiatan yang memberikan dampak nyata kepada masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Junaidin saat menjadi pembina Upacara Hari Kesadaran yang digelar di Halaman Kanwil Kemenag Sulteng, Kamis (17/9/2026). Upacara tersebut dihadiri para pejabat administrator, pejabat fungsional, pelaksana, dan ASN Kanwil Kemenag Sulteng.
Dalam arahannya, Kakanwil menyampaikan refleksi dari pimpinan Kementerian Agama di tingkat pusat bahwa publikasi tidak boleh hanya berorientasi pada pemberitaan seremonial, tetapi harus mampu menunjukkan dampak dari setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan.
“Setiap kegiatan yang kita lakukan harus terpublikasi. Namun, bukan sekadar publikasi kegiatan, orientasinya adalah kegiatan yang berdampak,” ujar Junaidin.
Ia menyampaikan bahwa pada 2025 Kementerian Agama berada di posisi ketiga secara nasional dalam kategori kementerian/lembaga. Menurutnya, capaian tersebut perlu dipertahankan melalui berbagai upaya, salah satunya dengan memperkuat publikasi program dan kegiatan Kementerian Agama secara masif.
“Hal ini menjadi perhatian kita semua. Saya kira ini merupakan tindak lanjut dari surat yang diturunkan oleh Sekjen Kemenag kemarin,” katanya.
Junaidin menegaskan, pola pemberitaan Kemenag tidak lagi hanya menampilkan pejabat yang membuka atau menghadiri sebuah kegiatan. Publikasi harus menyajikan data dan capaian yang dapat menggambarkan manfaat program bagi masyarakat.
Ia mencontohkan program Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah. Publikasi mengenai KBC, kata dia, tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi perlu menunjukkan jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan serta jumlah siswa, tenaga pendidik, dan pengelola pendidikan yang telah menerima manfaatnya.
“Bukan lagi sekadar sosialisasi, tetapi sudah berapa banyak yang kita lakukan dan menyentuh berapa banyak siswa, tenaga pendidik, serta pengelola pendidikan,” jelasnya.
Selain KBC, Junaidin juga menyoroti ekoteologi yang menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama. Ia meminta setiap satuan kerja memanfaatkan berbagai ruang kegiatan untuk mengangkat program-program yang memiliki dampak nyata.
“Bagaimana kita memanfaatkan setiap ruang kegiatan itu dengan memunculkan program-program yang berdampak,” ujarnya.
Menurutnya, publikasi tidak hanya dilakukan terhadap kegiatan utama, tetapi juga kegiatan sederhana yang memberikan manfaat, seperti penanaman pohon di lingkungan kantor, madrasah, maupun tempat ibadah. Publikasi juga perlu diarahkan pada berbagai bentuk layanan Kementerian Agama kepada masyarakat.
Ia meminta agar pemberitaan dikemas dengan narasi yang sederhana, menyentuh, humanis, dan sesuai dengan fakta di lapangan. Cerita tentang perjuangan aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, menurutnya, dapat menjadi bagian penting dalam publikasi Kemenag.
“Misalnya bagaimana penyuluh kita di daerah yang berangkat dari rumahnya menuju tempat layanan dengan menaiki perahu dan melewati pegunungan. Para guru kita juga luar biasa perjuangannya,” tuturnya.
Di akhir arahannya, Junaidin menegaskan bahwa seluruh program dan layanan Kementerian Agama harus berorientasi pada kemaslahatan dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Kementerian Agama hadir untuk memberikan maslahat, memberikan dampak. Orientasi kita adalah Kementerian Agama berdampak, bukan hanya sekadar kata,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberadaan agama diharapkan tidak hanya dipahami dalam konteks praktik syariah dan pembicaraan mengenai teologi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Bagaimana kita bisa memosisikan agama untuk membawa kemaslahatan bagi kehidupan sosial dan ekonomi,” pungkasnya.