Logo
7 September 2026 20:7:56 115

Ketulusan Tak Berhenti di Pura, tetapi Hadir dalam Pelayanan kepada Sesama

Ket: Bimbingan Penyuluhan Agama Hindu di Pura Sedhana Kerti, Desa Lembah Keramat, Kecamatan Toili Barat.


Banggai (Kemenag Sulteng). Ketulusan dalam menjalani kehidupan menjadi salah satu jalan untuk merasakan anugerah Tuhan. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banggai, I Nyoman Pasek Pancayasa, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Persantian Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kecamatan Toili Barat, di Pura Sedhana Kerti Desa Lembah Keramat, Kecamatan Toili Barat. Minggu (6/9/2026).

Mengangkat materi “Merasakan Anugerah Tuhan melalui Ketulusan”, Pasek mengajak para peserta untuk memahami bahwa kehadiran dan anugerah Sang Hyang Widhi dapat dirasakan ketika manusia mampu menempatkan diri dalam keadaan suci, baik melalui pikiran, perkataan maupun perbuatan.

Menurutnya, Tuhan merupakan sumber dari segala sesuatu. Namun, kehadiran-Nya terkadang tidak dapat dirasakan secara langsung. Karena itu, manusia perlu membangun keselarasan batin melalui ketulusan dan latihan spiritual agar mampu merasakan getaran serta anugerahnya.

Pasek menjelaskan, Bhagawad Gita XII.2–10 memberikan panduan kepada umat manusia untuk menempuh jalan bhakti melalui latihan yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Sikap tulus atau lascarya, menjadi bagian penting dalam proses menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

“Ketulusan kepada Tuhan tidak hanya diwujudkan dengan datang ke Pura atau Sanggah/Merajan untuk sembahyang. Ketulusan juga dapat diwujudkan melalui pelayanan kepada sesama manusia dan alam,” jelasnya.

Dalam penyampaiannya Ia menekankan bahwa ketulusan tidak hadir secara instan, melainkan perlu dilatih melalui sikap rendah hati dan kesediaan untuk mengutamakan kedamaian dalam kehidupan bersama.

Ia memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika terjadi perselisihan, seseorang yang mengedepankan ketulusan hendaknya berani meminta maaf terlebih dahulu tanpa sibuk mempertanyakan siapa yang benar atau salah. Sikap tersebut dinilai dapat menjadi langkah awal untuk memulihkan hubungan dan menjaga kedamaian.

Lebih jauh, ia mengajak umat untuk tidak menikmati kebahagiaan seorang diri. Kebahagiaan yang dimiliki, menurutnya, semestinya dapat dirasakan oleh orang lain, terutama mereka yang berada dalam kondisi kekurangan.

“Ketika kita memiliki harta yang berlimpah, tetapi masih membiarkan tetangga kekurangan bahkan kelaparan, sesungguhnya kita belum menemukan kebahagiaan yang sebenarnya dan belum sepenuhnya menjalankan dharma,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pelayanan kepada sesama pada hakikatnya merupakan bentuk pelayanan kepada Tuhan. Hal tersebut sejalan dengan konsep Tat Twam Asi, yang mengajarkan kesadaran bahwa diri sendiri dan makhluk lain merupakan bagian yang tidak terpisahkan.

Pasek berharap, melalui kegiatan Persantian WHDI, nilai-nilai ketulusan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian, kerendahan hati, pelayanan, serta menjaga hubungan harmonis dengan sesama dan alam.

“Ketika ketulusan mampu diterapkan kepada semua makhluk hidup, kebahagiaan akan tumbuh dalam kehidupan,” pungkasnya.

Penulis: I Nyoman Pasek Pancayasa

HUBUNGI KAMI

JL. Prof Moh Yamin, Birobuli Utara, Kec. Palu Selatan Kota Palu, Sulawesi Tengah 94231

0811-5880-7272

kanwilsulteng@kemenag.go.id

TAUTAN TERKAIT

CHAT KAMI (Klik Sekarang)

Beranda

Download Informasi Penting

PPID

Permohonan Data

IKUTI KAMI
Statistik Pengunjung
User Aktif (Realtime)
0
Total Hari Ini 595
Total Kemarin 1,077
Total Bulan Ini 5,095
Total Keseluruhan 416,469
Updated 08:06:37 PM Auto 30s