Istighosah Sigi Berzikir, Sulteng Berselawat untuk Bangsa
Ket: Sambutan Kakankemenag acara Istighosah Sigi Berzikir, Sulteng Berselawat untuk Bangsa
SIGI (Humas Kemenag Sigi) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sigi, H. Lutfi Yunus, S.Pi., M.Pd., ajak santri lanjutkan perjuangan menuntut ilmu pengetahuan dan tehnologi dilandasi Iman dan Takwa, serta pengabdian kepada bangsa dan negara. Jum'at (23/10/2026)
Ajakan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada kegiatan Istighosah Sulteng Bersholawat, yang digelar di Taman Likuifaksi, Biromaru, Kabupaten Sigi, dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2026. Kegiatan ini dihadiri Staf Ahli Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Rusmiyadi, serta perwakilan Pangdam XXIII/Palaka Wira, Korem 132/Tadulako, Polda Sulawesi Tengah, Kodim 1306/Pabung, Polres Sigi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi.
Dalam sambutannya, H. Lutfi Yunus menegaskan bahwa peringatan Hari Santri merupakan momentum untuk mengenang sekaligus menghargai jasa para ulama dan santri yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipisahkan dari peran para kiai dan santri. Salah satu tonggak penting perjuangan tersebut adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, yang membangkitkan semangat umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat tersebut kemudian tercermin dalam pertempuran di Surabaya pada November 1945. Para pejuang, termasuk ulama dan santri, turut mengambil bagian dalam perlawanan demi mempertahankan kedaulatan bangsa. Peristiwa bersejarah itu menjadi bagian dari perjuangan yang diperingati setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan.
Menurut H. Lutfi Yunus, tantangan perjuangan generasi muda saat ini berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Santri tidak lagi dituntut mengangkat senjata untuk melawan penjajah, tetapi harus mampu meneruskan cita-cita para pendahulu melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan pembentukan akhlak yang mulia.
“Sebagai santri dan pelajar, kita dituntut untuk membuktikan bahwa semangat perjuangan para ulama dan santri tetap hidup. Bukan lagi dengan mengangkat senjata, tetapi dengan mengedepankan ilmu pengetahuan dan akhlakul karimah,” pesannya.
Ia berharap para santri tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan tidak hanya menjadi penerus tradisi keilmuan Islam, tetapi juga berperan aktif dalam membangun masyarakat dan menjaga persatuan Indonesia.
Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri, Mewujudkan Indonesia.” Tema ini menjadi pengingat bahwa santri memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga nilai-nilai keislaman, merawat kebinekaan, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Melalui Istighosah Sulteng Bersholawat, diharapkan tumbuh semangat spiritual dan kebersamaan dalam memperkuat persatuan serta meneladani perjuangan para ulama. Dengan niat yang ikhlas dan tulus, santri diharapkan mampu melanjutkan perjuangan para pendahulu melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian nyata bagi agama, bangsa, dan negara