Kabid Bimas Kristen Dorong Lulusan Teologi Jalankan Pelayanan yang Relevan di Masyarakat
Ket: Kabid Bimas Kristen pada kegiatan wisuda STTII Palu, Sabtu (19/9/2026).
Palu (Kemenag Sulteng) - Lulusan pendidikan teologi diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga integritas, karakter, dan kemampuan yang relevan untuk menjawab tantangan pelayanan di tengah masyarakat yang terus berubah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah, Martinus E. Bonggili, dalam Wisuda ke-22 yang dirangkaikan dengan Dies Natalis ke-36 Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Palu, pada Program Studi Sarjana dan Magister Teologia, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Palu tersebut mewisuda 16 lulusan, terdiri atas enam Sarjana Teologia dan 10 Magister Teologia.
Martinus menjelaskan bahwa wisuda pendidikan teologi tidak semata-mata menjadi penanda berakhirnya proses akademik, tetapi juga awal dari tanggung jawab pelayanan. Gelar yang diperoleh lulusan, menurutnya, membawa konsekuensi moral dan spiritual untuk mengabdikan pengetahuan bagi umat dan masyarakat.
“Pendidikan teologi bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses transformasi manusia seutuhnya,” ungkap Martinus.
Ia menekankan bahwa pendidikan teologi perlu membentuk pikiran, hati, karakter, dan integritas, sehingga lulusan tidak hanya tepat dalam iman dan ajaran, tetapi juga dalam praktik pelayanan serta memiliki hati yang mengasihi Tuhan dan sesama.
Ia juga mengingatkan bahwa para lulusan akan menghadapi dunia pelayanan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan, hingga perubahan pola komunikasi generasi muda dan persoalan kemanusiaan. Kondisi tersebut membutuhkan pelayan yang tidak hanya memahami Alkitab, tetapi juga mampu membaca konteks zaman dan merespons kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, Martinus mengajak lulusan untuk turut membangun persaudaraan, merawat kebinekaan, dan memperkuat moderasi beragama. Menurutnya, menjalankan iman secara dewasa perlu berjalan seiring dengan sikap adil, penghargaan terhadap martabat manusia, serta upaya menjaga kehidupan bersama yang damai.
Martinus turut mengingatkan agar gelar akademik, pengetahuan, maupun jabatan tidak menjadi tujuan akhir. Ia mengajak para lulusan menjadikan Kristus sebagai pusat pendidikan dan pelayanan, sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar digunakan untuk melayani, bukan sekadar mengejar pengakuan atau popularitas.
“Pengetahuan adalah tanggung jawab. Pelayanan adalah panggilan. Dan Kristus adalah pusat serta tujuan semuanya,” tegasnya.
Ia berharap para lulusan dapat membawa bekal pendidikan mereka ke tengah masyarakat melalui pelayanan yang membumi, berintegritas, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kehadiran mereka diharapkan mampu menghadirkan pengharapan, kasih, dan kesaksian iman melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan yang sama, wisuda juga dirangkaikan dengan pelantikan pejabat struktural STTII Palu. Martinus berharap STTII terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan pelayan Tuhan dengan kompetensi akademik, kematangan spiritual, karakter yang kuat, serta kemampuan menjawab kebutuhan gereja dan masyarakat.

