Ijab Kabul di Rumah Sakit, Wujud Pelayanan KUA Ampana Tete
Ket: proses ijab kabul di Rumah Sakit
Tojo Una-Una (Kemenag Sulteng) - Suasana berbeda terlihat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ampana, Jumat (11/09/2026) sore. Di tengah ruang perawatan, terdengar suara ijab kabul yang diucapkan dengan khidmat. Tidak ada pelaminan, dekorasi, maupun pesta pernikahan. Hanya keluarga, penghulu, dan petugas medis yang hadir menyaksikan sebuah momen penting dalam kehidupan Fadlan dan Serliyanti.
Akad nikah tersebut merupakan pernikahan Fadlan bin Hamka Djaelani, putra Hamka Djaelani dan Lili, dengan Serliyanti binti Syaharudin, putri Syaharudin ML dan Kamariah Hasan Nur. Awalnya, akad nikah dijadwalkan pada Sabtu (12/09/2026) pukul 19.30 WITA di rumah mempelai perempuan, Desa Tete A. Namun, rencana itu berubah karena kondisi ibu Serliyanti yang sedang menjalani perawatan di RSUD Ampana akibat penyakit komplikasi.
Dalam kondisi sakit, Kamariah menyampaikan keinginannya kepada Serliyanti agar akad nikah dipercepat. Ia ingin menyaksikan sendiri putrinya mengucapkan ijab kabul bersama calon suaminya. Keinginan tersebut kemudian disampaikan Serliyanti kepada Kepala KUA Kecamatan Ampana Tete, Amson Patanda. Setelah berkomunikasi dengan Syaharudin ML selaku wali nikah, keluarga menyetujui pelaksanaan akad nikah dimajukan ke Jumat (11/09/2026) setelah salat Asar, sekitar pukul 15.30 WITA, di rumah sakit.

Amson Patanda yang juga bertindak sebagai penghulu kemudian memandu prosesi akad. Syaharudin ML memberikan persetujuan dan mewakilkan kewaliannya kepada Amson.
Menurut Amson, pelaksanaan akad di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan KUA kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Kami berusaha memberikan pelayanan agar keinginan keluarga dapat terlaksana. Apalagi ibunya sedang dalam kondisi sakit dan ingin menyaksikan pernikahan putrinya,” ujar Amson.
Ia juga mengatakan, meskipun dilaksanakan secara sederhana tanpa pelaminan dan perlengkapan pesta, akad tetap berlangsung khidmat.
“Yang terpenting akad nikahnya dapat terlaksana dengan baik dan tidak mengurangi kesakralan ijab kabul,” katanya.
Dukungan petugas medis RSUD Ampana turut membantu sehingga prosesi berjalan dengan lancar. Di samping tempat ibunya menjalani perawatan, Serliyanti akhirnya resmi menjadi istri Fadlan.
Bagi Amson, peristiwa tersebut menjadi salah satu bentuk kehadiran KUA di tengah masyarakat. “KUA akan selalu hadir memberikan pelayanan saat masyarakat membutuhkan, kapan dan di mana saja tempatnya,” ujarnya.
Tidak ada kemeriahan dalam pernikahan itu. Namun, ada satu hal yang membuatnya berarti, yaitu harapan seorang ibu yang akhirnya dapat menyaksikan putrinya mengucapkan ijab kabul.

