20 Guru MAN Buol Tuntas Ikuti AKGTK 2026, Sejumlah Kendala Teknis Tak Surutkan Semangat Peserta
Ket: Dokumentasi pelaksanaan Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK) di MAN Buol.
MAN Buol (Kemenag Sulteng) - Sebanyak 20 tenaga pendidik Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Buol berhasil menuntaskan Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK) Tahun 2026 yang berlangsung selama empat hari, Selasa hingga Jumat (6–9 Oktober 2026). Pelaksanaan asesmen dilakukan di lingkungan kerja masing-masing peserta dengan memanfaatkan perangkat komputer atau laptop dan jaringan internet.
Kepala MAN Buol, Salman DJ Adjud, menyampaikan bahwa tahun ini terdapat 20 guru di madrasah yang dipimpinnya memperoleh undangan untuk mengikuti asesmen. Namun, tiga guru lainnya belum dapat mengikuti AKGTK karena nama mereka tidak tercantum dalam daftar peserta pada aplikasi EMIS-GTK.
“Alhamdulillah, 20 tenaga pendidik dari madrasah ini telah menyelesaikan AKGTK pada hari ini. Sementara itu, ada tiga guru yang tidak terpanggil, yakni Ramli sebagai guru PJOK, Farhana sebagai guru PKn, dan Susanti Herlina sebagai guru BK. Kemungkinan mata pelajaran mereka belum termasuk dalam pemetaan peserta asesmen pada tahap ini,” ujarnya.
Salman menambahkan, seluruh tenaga kependidikan MAN Buol juga belum memperoleh undangan untuk mengikuti AKGTK pada periode tersebut. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi kemungkinan berkaitan dengan kriteria sasaran peserta yang ditetapkan dalam pelaksanaan asesmen tahun ini.
Hal senada disampaikan Sartini, salah seorang tenaga kependidikan MAN Buol. Ia membenarkan bahwa tenaga kependidikan di madrasah tersebut belum menerima undangan untuk mengikuti asesmen. Meski demikian, mereka tetap berperan aktif membantu kelancaran pelaksanaan AKGTK bagi 20 guru yang terdaftar sebagai peserta.
Menurut Sartini, meskipun para guru telah mengikuti simulasi AKGTK pada 19–24 September 2026, beberapa peserta masih membutuhkan pendampingan ketika mengakses aplikasi asesmen. Kendala yang dihadapi antara lain kesulitan masuk ke sistem menggunakan laptop serta perangkat yang tidak dapat dipasangi aplikasi Safe Exam Browser (SEB), yaitu aplikasi yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan ujian berbasis komputer secara terkontrol.
“Ketika asesmen berlangsung, sejumlah kendala teknis juga dapat terjadi, seperti jaringan internet yang kurang stabil hingga pemadaman listrik secara tiba-tiba. Kami berupaya membantu peserta mencari solusi agar mereka dapat melanjutkan asesmen,” jelasnya.
Pengalaman tersebut turut dirasakan Suharni, salah seorang guru peserta AKGTK MAN Buol. Ia mengisahkan bahwa dirinya sempat mengalami gangguan teknis ketika mengerjakan soal asesmen di ruang kerjanya, yakni Laboratorium Bahasa.
“Saat itu, saya sudah menjawab sekitar 50 dari 80 soal yang tersedia di ruang asesmen dalam aplikasi. Namun, tiba-tiba listrik padam sehingga jaringan Wi-Fi yang terhubung ke laptop saya ikut terputus,” tuturnya.
Menghadapi situasi tersebut, Suharni segera menghubungi operator AKGTK tingkat Kabupaten Buol, Asrin, untuk meminta arahan. Setelah mendapatkan pendampingan melalui panggilan video (video call), ia akhirnya berhasil mengatasi kendala tersebut sekitar 30 menit kemudian dengan beralih menggunakan koneksi internet dari telepon seluler berbasis Android.
Pengalaman ini menjadi salah satu cerita di balik pelaksanaan AKGTK di MAN Buol. Di tengah berbagai tantangan teknis, kesiapan peserta, dukungan tenaga kependidikan, serta koordinasi dengan operator kabupaten menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran asesmen.
Secara umum, AKGTK bertujuan memetakan tingkat kompetensi guru dan tenaga kependidikan madrasah, mengidentifikasi kekuatan serta aspek yang masih perlu ditingkatkan, dan mendorong pengembangan profesionalisme. Hasil pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan refleksi sekaligus dasar perencanaan program pelatihan dan peningkatan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan.
Dengan berakhirnya pelaksanaan AKGTK 2026 di MAN Buol, diharapkan hasil asesmen tidak hanya menjadi gambaran kompetensi peserta, tetapi juga menjadi pijakan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia madrasah secara berkelanjutan demi terwujudnya layanan pendidikan yang semakin bermutu. (SH-MANBuol)