Sentuh Spiritual Warga Binaan, Penyuluh Hindu Kemenag Banggai Tanamkan Nilai Tri Hita Karana
Ket: Bimbingan Penyuluhan Agama Hindu di Lapas Kelas IIB Luwuk
Banggai (Kemenag Sulteng). Penguatan spiritual menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang lebih baik, termasuk bagi warga binaan pemasyarakatan. Hal tersebut diwujudkan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Banggai, I Nyoman Pasek Pancayasa, melalui bimbingan penyuluhan dan pembinaan rohani Hindu bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk, Senin (5/10/2026).
Dalam bimbingan tersebut, Panca menyampaikan materi tentang Tri Hita Karana, sebuah falsafah kehidupan dalam ajaran Hindu yang mengajarkan tiga prinsip utama sebagai jalan menuju kebahagiaan dan kesejahteraan, yakni hubungan harmonis manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan sesama (Pawongan), serta hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan).
Menurutnya, Tri Hita Karana tidak hanya menjadi konsep keagamaan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun sikap dan perilaku selama menjalani masa pembinaan. “Tri Hita Karana mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan hidup. Kita harus membangun hubungan yang baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” jelasnya.
Pada aspek Parahyangan, warga binaan diajak untuk senantiasa memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan melalui doa, bhakti, pelaksanaan ajaran agama, serta menjaga kehidupan keagamaan. Sementara Pawongan menekankan pentingnya membangun hubungan harmonis dengan sesama melalui sikap saling menghormati, tolong-menolong, gotong royong, dan menjaga kerukunan.
Panca juga mengingatkan nilai luhur Tat Twam Asi, yang mengajarkan bahwa diri kita memiliki keterhubungan dengan orang lain. Karena itu, setiap orang diajak untuk menghindari sikap iri hati, amarah, dan perilaku yang dapat menyakiti sesama.
“Ketika kita menyakiti orang lain, pada hakikatnya kita sedang menyakiti diri kita sendiri. Karena itu, mari kita kedepankan toleransi, saling menghargai, dan gotong royong agar kedamaian atau Shanti dapat tumbuh dalam kehidupan,” tuturnya.
Selanjutnya, melalui prinsip Palemahan, warga binaan diajak meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, menjaga tumbuh-tumbuhan, mencegah kerusakan alam, serta membangun kehidupan yang selaras dengan lingkungan. Ia menegaskan bahwa alam telah memberikan berbagai sumber kehidupan sehingga manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat dan menjaganya.
“Menjaga alam berarti menjaga kehidupan kita sendiri. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi bagian dari kehidupan kita, bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan,” ujarnya.
Melalui bimbingan tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Banggai berharap nilai-nilai Tri Hita Karana dapat dipahami dan diterapkan oleh warga binaan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Keseimbangan antara spiritualitas, hubungan sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan mampu membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral dan spiritual yang kuat.

