12 Organisasi Dikukuhkan, MAN 1 Kota Palu Dorong Siswa Belajar Memimpin
Ket: Kepala MAN 1 Kota Palu, Dr. Hj. Rusdiana, S.Pd., M.Pd., melantik dan mengukuhkan pengurus baru sejumlah organisasi intrakurikuler dan ekstrakurikuler
Palu (Humas) — Regenerasi kepemimpinan di kalangan siswa MAN 1 Kota Palu resmi dimulai. Kepala MAN 1 Kota Palu, Dr. Hj. Rusdiana, S.Pd., M.Pd., melantik dan mengukuhkan pengurus baru sejumlah organisasi intrakurikuler dan ekstrakurikuler, Jumat (2/10/2026).
Pelantikan tersebut menjadi momentum pergantian kepengurusan sekaligus penegasan peran organisasi siswa sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, dan keterampilan peserta didik di luar pembelajaran kelas.
Sebanyak 12 organisasi mengikuti prosesi pelantikan dan pengukuhan, yakni Majelis Perwakilan Kelas (MPK), Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM), Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), BCC, PIK-R, Karya Ilmiah Remaja (KIR), Paskibraka, Marching Band (MB), RISMA, UKS, dan SAHARA.

Keberadaan organisasi-organisasi tersebut mencerminkan beragam ruang pengembangan potensi siswa. Mulai dari kepemimpinan dan organisasi, kegiatan sosial-kemanusiaan, keagamaan, kepedulian kesehatan, kreativitas, penelitian, hingga kedisiplinan dan keterampilan.
Bagi MAN 1 Kota Palu, organisasi siswa bukan sekadar aktivitas tambahan setelah jam pelajaran. Di ruang inilah peserta didik belajar mengambil keputusan, bekerja dalam tim, menjalankan tanggung jawab, menyelesaikan persoalan, sekaligus mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan.

Pelantikan pengurus baru juga menandai dimulainya periode kerja baru yang menuntut setiap organisasi tidak berhenti pada seremoni pergantian kepengurusan. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap organisasi mampu menghadirkan program yang produktif dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan madrasah.
Dengan dikukuhkannya kepengurusan baru, MAN 1 Kota Palu kembali menempatkan organisasi siswa sebagai bagian penting dalam membangun generasi yang hebat, cerdas, dan berakhlak.
Regenerasi telah dimulai. Kini, kepengurusan baru dituntut membuktikan bahwa organisasi siswa bukan sekadar nama dan jabatan, melainkan ruang untuk belajar memimpin, melayani, dan berkarya.