Piodalan Pura Penataran Ped Jadi Momentum Perkuat Dharma dan Kepedulian Alam
Ket: Upacara Piodalan di Pura Penataran Ped, Desa Molino, Kecamatan Luwuk Timur
Banggai (Kemenag Sulteng). Mewujudkan kebahagiaan hidup tidak cukup dengan mengejar kekayaan material, tetapi perlu dibangun melalui pengamalan Dharma, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Banggai, I Nyoman Pasek Pancayasa, dalam bimbingan penyuluhan keagamaan pada upacara Piodalan di Pura Penataran Ped, Desa Molino, Kecamatan Luwuk Timur. Rabu (14/10/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Rabu/Buda-Wage Wuku Klawu (Buda Cemeng Klawu) tersebut diikuti umat Hindu setempat. Dalam penyuluhannya, Panca mengangkat tema “Menjaga Keselarasan untuk Mencapai Tujuan Hidup yang Bahagia (Jagadhita)” sebagai penguatan pemahaman umat mengenai makna kebahagiaan dalam ajaran Hindu.
Panca menjelaskan, ajaran Hindu mengenal tujuan hidup melalui konsep Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, yakni mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia serta kebebasan rohani. Karena itu, pencapaian materi bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan hidup, melainkan harus diimbangi dengan perilaku yang berlandaskan Dharma.

“Kebahagiaan hidup hendaknya kita upayakan melalui pengamalan Dharma, rasa syukur atas segala anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan harmonis,” ungkap Pancayasa.
Ia juga mengajak umat untuk mengamalkan nilai Tat Twam Asi, yang mengajarkan kesadaran bahwa setiap makhluk memiliki keterkaitan dan patut diperlakukan dengan kasih sayang. Nilai tersebut menjadi landasan untuk saling membantu, memperkuat kepedulian, dan membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.
Selain hubungan antarmanusia, Panca menyoroti pentingnya menjaga keselarasan dengan alam, terutama di tengah musim kemarau berkepanjangan yang berdampak pada ketersediaan air dan ketahanan pangan di sejumlah daerah.
Menurutnya, doa dan harapan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa perlu disertai tindakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan. Umat diimbau tidak melakukan penebangan hutan secara sembarangan maupun pembakaran lahan dan hutan yang dapat merusak sumber kehidupan.
“Kita perlu memohon anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar diberikan kehidupan yang baik dan ketahanan pangan yang mencukupi. Namun, doa tersebut harus disertai usaha nyata menjaga alam, karena lingkungan yang lestari merupakan bagian penting dari keberlangsungan hidup kita,” tegasnya.
Melalui bimbingan penyuluhan ini, umat Hindu diharapkan semakin memahami bahwa kebahagiaan atau Jagadhita dapat diwujudkan melalui keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Rasa syukur atas setiap anugerah, sekecil apa pun, juga menjadi landasan untuk menjalani kehidupan yang harmonis, sejahtera dan penuh kedamaian baik saat ini maupun di masa mendatang.
