Bukan Hukuman Fisik, Murid Terlambat di MAN Buol Diarahkan Menghafal Al-Qur’an
Ket: Dokumentasi pemberian sanksi edukatif kepada murid yang datang terlambat di MAN Buol.
MAN Buol (Kemenag Sulteng) - Datang terlambat ke madrasah tidak lantas membuat murid Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Buol harus dipulangkan ke rumah. Sebagai bentuk pembinaan kedisiplinan, madrasah menerapkan sanksi edukatif bagi murid yang datang terlambat, salah satunya dengan mengarahkan mereka untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, Senin (21/9/2026).
Penerapan sanksi edukatif tersebut menjadi bagian dari upaya MAN Buol membangun kesadaran disiplin melalui pendekatan yang mendidik. Murid yang terlambat tidak hanya diberikan teguran, tetapi juga diarahkan untuk memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang memiliki nilai pembelajaran dan pembentukan karakter.
Kepala MAN Buol, Salman DJ Adjud, mengatakan bahwa pemberian sanksi edukatif merupakan kesepakatan pihak madrasah sebagai bentuk pembinaan terhadap murid yang belum mampu menunjukkan kedisiplinan dalam hal waktu.
“Alih-alih memberikan hukuman yang bersifat fisik atau memulangkan murid, guru jaga justru mengarahkan para murid yang terlambat untuk menghafal beberapa ayat Al-Qur’an,” jelas Salman.
Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berbeda kepada murid. Kesalahan karena datang terlambat tetap mendapatkan pembinaan, tetapi pembinaan dilakukan melalui aktivitas yang memberikan manfaat bagi perkembangan karakter dan spiritual peserta didik.
“Kegiatan ini bertujuan memberikan hukuman yang bersifat mendidik atau edukatif untuk meningkatkan kedisiplinan sekaligus membentuk karakter positif murid,” lanjutnya.
Penerapan sanksi edukatif tersebut mendapat tanggapan positif dari sejumlah guru dan orang tua murid. Pendekatan pembinaan yang tidak mengedepankan hukuman fisik maupun pemulangan murid dinilai dapat menjadi ruang refleksi bagi peserta didik untuk memahami konsekuensi dari ketidakdisiplinan.
Selain menanamkan kesadaran tentang pentingnya datang tepat waktu, kegiatan tersebut juga mengajak murid untuk lebih dekat pada Al-Qur’an. Dengan demikian, pembinaan kedisiplinan tidak hanya diarahkan pada perubahan perilaku, tetapi juga diharapkan dapat memperkuat karakter religius peserta didik.
Guru jaga hari Senin, Hj. Suriani, mengatakan bahwa sebelum memberikan sanksi kepada murid yang terlambat, pihaknya terlebih dahulu memberikan pengarahan dan nasihat. Menurutnya, hal tersebut penting agar murid memahami alasan di balik penerapan aturan, bukan sekadar merasa takut terhadap hukuman.
“Datang tepat waktu ke madrasah bukan karena takut dihukum atau dicatat dalam buku keterlambatan, tetapi karena kita menghargai waktu dan belajar bertanggung jawab dalam mengatur aktivitas harian,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kebiasaan datang tepat waktu perlu dibangun melalui kesadaran yang tumbuh dari dalam diri murid. Disiplin, menurutnya, bukan hanya persoalan mematuhi aturan madrasah, tetapi juga merupakan bagian dari pembentukan sikap bertanggung jawab yang akan dibutuhkan murid dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan sanksi edukatif ini menjadi salah satu ikhtiar MAN Buol dalam menciptakan budaya madrasah yang mengedepankan pembinaan, keteladanan, dan pendidikan karakter. Melalui pendekatan tersebut, setiap pelanggaran diharapkan dapat menjadi momentum bagi murid untuk belajar, memperbaiki diri, dan memahami pentingnya bertanggung jawab atas setiap tindakan.
Dengan demikian, disiplin di madrasah tidak semata-mata dibangun melalui aturan dan sanksi, tetapi juga melalui proses pembiasaan dan kesadaran. Datang tepat waktu, mengikuti kegiatan pembelajaran, serta menjalankan kewajiban sebagai murid diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan positif yang melekat dalam diri masing-masing. (SH-MANBuol)