Halid Bin Walid
28 Agustus 2025 8:43:0
Banggai Kepulauan (Kemenag Sulteng) – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menggagas sebuah terobosan pendidikan yang cukup unik dan sarat makna, yakni “Kurikulum Cinta.” Program ini dirancang untuk menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, empati, dan kepedulian sosial sejak dini di lingkungan pendidikan dan keagamaan.
Menurut Menteri Agama, pendidikan agama tidak hanya berhenti pada tataran kognitif dan ritual semata, tetapi juga harus melahirkan pribadi yang penuh cinta kasih, mampu menghargai perbedaan, serta menjunjung tinggi kemanusiaan. “Agama hadir untuk membawa rahmat dan cinta, bukan kebencian dan perpecahan. Karena itu, pendidikan berbasis cinta menjadi kebutuhan penting di era sekarang,” ungkap Nasaruddin Umar dalam pernyataannya.
Kurikulum Cinta ini diharapkan dapat diterapkan secara menyeluruh, termasuk di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan tersendiri dalam bidang pendidikan dan pembinaan keagamaan, seperti di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.
Kepala Seksi Pendidikan Islam (Kasi Pendis) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banggai Kepulauan (Kemenag Bangkep) Aswad U. Buhun menyambut baik gagasan ini. Menurutnya, masyarakat Banggai Kepulauan yang hidup dalam keberagaman suku dan budaya sangat membutuhkan pendidikan yang berakar pada nilai cinta dan toleransi. “Jika Kurikulum Cinta ini diterapkan, ia akan menjadi perekat sosial yang kuat. Anak-anak dan generasi muda akan belajar sejak dini bagaimana menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik dengan bijak, dan menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama,” jelasnya.
Aswad melanjutkan, Penerapan Kurikulum Cinta di Bangkep sendiri tinggal menuggu sosialisasi yang akan dilaksanakan pada saat Rapat Kerja (Raker) Madrasah yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 15 sampai 16 September 2025. Setelahnya seluruh madrasah akan siap menerapkan Kurikulum Cinta ini.
Dampak positif dari penerapan kurikulum ini di Banggai Kepulauan diyakini akan terasa bukan hanya di sekolah dan madrasah, tetapi juga di lingkungan masyarakat. Dengan kondisi geografis kepulauan yang seringkali menghadapi keterbatasan sarana pendidikan, nilai-nilai cinta akan membantu membangun semangat kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial.
Lebih jauh, Kurikulum Cinta juga dipandang relevan untuk menjawab tantangan modernisasi yang berpotensi menimbulkan gesekan sosial. Di Banggai Kepulauan, program ini diharapkan mampu memperkuat harmonisasi antarumat beragama, serta mencetak generasi muda yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter penuh kasih sayang. Bukan hanya berkasih sayang antar manusia, namun juga antar sesama makhluk hidup.