Gubernur Sematkan 87 Satyalencana Karya Satya ASN Kemenag Sulteng

Keterangan Gambar : Gubernur Serahkan Satyalencana Karya Satya pada salah satu ASN Kemenag Sulteng


Gubernur Sematkan 87 Satyalencana Karya Satya ASN Kemenag Sulteng

Palu (Kemenag Sulteng) – Gubernur Sulawesi Tengah Longki Janggola menyematkan Satyalencana Karyasatya kepada 87 ASN Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah (3/1) di Palu.

Penyematan tersebut secara simbolis diberikan kepada tiga orang perwakilan ASN Kemenag Sulteng. Adapun Penerima tanda kehormatan tersebut, untuk masa 30 tahun berjumlah 4 orang, masa 20 tahun berjumlah 19 orang, dan masa 10 tahun berjumlah 64 orang.

Salah satu penerima Satyalencana Karya Satya untuk masa 30 tahun adalah ASN Kanwil Kemenag Sulteng yang bernama Sarbani. Dia adalah pelaksana pada Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah, dan telah mengabdikan dirinya terus menerus pada Kemenag Sulteng sejak tahun 1989. Sarbani juga penyintas di Kecamatan Balaroa, dimana rumahnya ikut amblas dalam bencana Gempa dan Likuefaksi September silam. Namun hal tersebut tidak menghalanginya untuk terus mengabdi di Kemenag Sulteng.

  

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2010, Satyalencana Karya Satya merupakan salah satu tanda kehormatan yang merupakan penghargaan negara yang diberikan Presiden kepada PNS atas darmabakti dan kesetiaan yang luar biasa terhadap bangsa dan negara. Tanda kehormatan Kepada Pegawai Negeri Sipil yang telah berbakti dalam masa kerja 10, 20 dan 30 tahun lebih secara terus menerus.

Gubernur didampingi Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah, Rusman Langke menyematkan Satyalencana Karya Satya tersebut, usai pelaksanaan Upacara hari Amal Bakti ke 73 Kementerian Agama tahun 2019 yang dilaksanakan di halaman Kanwil Kemenag Sulteng.

Gubernur selaku Pembina Upacara, membacakan Sambutan Menteri Agama Lukman hakim Saifuddin. Pada akhir sambutan tersebut Menteri Agama mengucapkan penghargaan dan terimakasih kepada jajaran Kementerian Agama atas sumbangsih dan kontribusinya selama ini dalam upaya membangun birokrasi modern, bersih dan professional melayani umat.

“Sebagai bagian dari institusi yang membawa nama "agama", seyogyanyalah perilaku kita sebagai pejabat dan aparatur mencerminkan kemuliaan agama, di mana antara kata dan perbuatan saling serasi, antara kesalehan personal dan kesalehan sosial saling melengkapi.” Pungkasnya. (lis)