Walau Pakai Sarung, Pemikiran Harus Habibie

BOYAOGE, MERCUSUAR – Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulteng, H. Abdullah Latopada kembali memotivasi pondok pesantren di Sulteng agar menjadi pendidikan alternatif di daerah ini. Pondok pesantren, kata dia, harus bisa menjawab tantangan generasi saat ini.

“Oleh karena itu, walau di pesantren pakai sarung, tapi pemikiran (santri harus) Habibie (mantan Presiden RI yang ahli teknologi),”  kata Abdullah saat membuka seleksi Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) antarpondok pesantren di Wisma Alam Raya, Kelurahan Boyaoge, Kecamatan Palu Selatan, Senin (25/9/2017).

Musabaqah Qira’atil Kutub adalah lomba membaca dan memahami isi kandungan kitab kuning yang biasa diselenggarakan dengan  peserta para santri pondok pesantren.

Menurut  Abdullah, pondok pesantren juga harus mengembangkan model pemikiran moderat atau pemikiran yang bijaksana yang dapat diterima semua orang. Ini juga menjadi upaya untuk meniggalkan kesan jika pesantren menjadi tempat melahirkan kalangan radikal. Pemerintah, menurut Kakanwil, juga terus berupaya untuk memberikan perhatian terhadap keberadaan pondok pesantren di daerah.

Sementara itu, seleksi MQK antarpondok pesantren se-Sulteng diikuti oleh 83 peserta dari tujuh kabupaten/kota, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Poso, Morowali dan Tojo Una-una. Para santri akan menguji kemampuan di tiga kategori, yakni tingkat ula (SD/sederajat), wusta (SMP/sederajat), dan ‘ulya (SMA/sederajat).

Pembukaan kemarin juga dihadiri Kepala Bidang Pendidikan dan Keagamaan Islam pada Kanwil Kemenag Sulteng, Kiflin Padjala, para pejabat Kemenag, Biro Kesra Setdaprov , serta para santri dan pendamping. Seleksi akan berakhir pada Kamis (28/9/2017) mendatang. Sementara pemenang nantinya mewakili Sulteng pada iven yang sama tingkat nasional di salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah.DAR

Dari |September 26th, 2017|Berita|0 Komentar