AMBISI MENGEJAR JABATAN

Beranda/Opini/AMBISI MENGEJAR JABATAN

AMBISI MENGEJAR JABATAN

Oleh: Sofyan Arsyad

Kepala Seksi Kepenghuluan dan Pemberdayaan KUA
Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah

Beberapa pekan terakhir beberapa sahabat di jejaring sosial (media sosial) rajin bikin status seputar pemilukada serentak. Geli juga membacanya.

Saya mengutip beberapa diantara kicauan mereka sesuai teks aslinya. “Jabatan itu bkn dicari apalagi dikejar. Krn jabatan itu bkn maling” tulis kawan lama SMA yang mukim di Keluarahan Silae Kecamatan Ulujadi Kota Palu Sulawesi Tengah. Ada pula status yang cukup seram. “Rapatkan barisan menangkan .. (si anu). Harga mati!”.

Seorang facebooker menanggapinya dengan rileks: “Janganlah hrg mati. Yg primer sj msh bikin kita setengah mati. Lampu mati.. harga di pasar.. biaya sekolah anak dan seterusnya yg bisa bikin kita mati. Jd tdk perlu mati-matian krn hidup kita sendiri sdh setengah mati”. Benar juga.

Status yang menohok tim sukses dan kandidat juga tersaji. “Sy tdk tau siapa nti yg gila dlm proses pilkada. Tim sukses atau kandidat krn keduanya baku surga telinga” tulis seorang kawan aktivis lingkungan. Mungkin sudah kenyang pengalaman ada yang merespon begini: “Surga telinga itu konotasinya cuma cerita. Kata tim sukses so gampang pak massa sdh sy kondisikan. Oh ya mantap klo sy jadi so gampang”. Bahasa Arab gaulnya tim sukses dan kandidat sama-sama “baku harrat”.

Dari sekian banyak status dan kicauan itu saya tergelitik dengan status medsos kawan lama SMA (jabatan itu bukan dicari apalagi dikejar karena dia bukan maling) yang spiritnya memberi warning untuk tidak kasak-kasuk berambisi mengejar jabatan. Apalagi jika diawali dengan mahar dan disudahi ucapan terima kasih dan janji-janji proyek.

Terkait hal itu Rasulullah pernah menasehati Abdurrahman bin Samurah. Kata Nabi “Wahai Abdurrahman bin Samurah janganlah engkau kasak-kusuk mencari jabatan karena bila engkau memperoleh jabatan tanpa kasak-kusuk engkau akan dibantu Tuhan. Allah akan menurunkan malaikat mendukung langkahmu. Tetapi jika kamu diberi jabatan karena meminta atau kasak-kusuk maka beban jabatan itu diserahkan sepenuhnya kepadamu untuk memikulnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bahkan dalam hadis lain Nabi dengan tegas menyatakan:

“Demi Allah kami tidak mengangkat sebagai pejabat mereka yang kasak-kusuk meminta jabatan.

Kebanyakan orang belum memahami apa hakikat sebuah jabatan dan bagaimana pertanggungjawabannya kelak di akhirat nanti. Dalam salah satu hadisnya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya kamu sekalian akan berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu menjadi sebuah penyesalan. (H.R Bukhari).

Kata penyesalan dalam hadis tersebut perlu digaris bawahi utamanya bagi mereka yang saat ini kebetulan belum mendapat jabatan agar jangan sekali-kali berambisi mengejar-ngejar jabatan. Islam memberikan tuntunan jabatan itu tidak perlu diminta kecuali jika di tempat itu benar-benar tidak ada orang yang dinilai sanggup memikulnya.

Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf as yang secara terang-terangan meminta Raja Mesir mengangkat dirinya sebagai bendaharawan negara. Dalam rangkaian surah Yusuf ayat 54-56 dikisahkan suatu ketika negeri Mesir ditimpa bahaya kelaparan akibat kemarau yang sudah berlangsung tujuh tahun. Dalam kondisi demikian Raja Mesir sulit mencari pejabat yang pantas untuk dipromosikan. Atas saran seseorang sang raja memanggil Yusuf untuk menjalani fit and propertest. Pada kesempatan itulah Yusuf dengan penuh keyakinan berkata kepada Raja:

“Jadikanlah aku bendahawaran negara sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”

Dalam kasus ini apa yang dilakukan Yusuf adalah sebuah keterpaksaan. Ia terpaksa meminta jabatan karena dua alasan: Pertama Yusuf prihatin dengan kondisi negara dan berniat ingin menyelamatkan negeri itu dari bahaya kelaparan. Kedua ia menilai dirinya cukup kapabel dan berpengetahuan di bidang keuangan dan perbendaharaan. Terpenting dari itu semua Yusuf juga tahu bagaimana menjaga amanah.

Jika Nabi Yusuf meminta jabatan karena merasa dirinya mampu maka sebaliknya bagi mereka yang merasa diri tidak mampu memegang jabatan sebaiknya tidak perlu memaksakan diri mengejar-ngejar jabatan.

Dalam shahih muslim dikisahkan suatu ketika Abu Dzar berkata kepada Nabi; Wahai Rasul hendaklah engkau memberiku jabatan! Rasulullah lalu menepuk punggung Abu Dzar seraya berkata: “Wahai Abu Dzarr sesungguhnya engkau itu lemah dan sungguh jabatan itu adalah amanah dan jabatan itu pada hari kiamat hanyalah kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya secara benar dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya” Inilah bukti kecintaan Nabi kepada sahabatnya. Beliau tidak rela jika Abu Dzar menyesal di kemudian hari.

Apa yang dilakukan Nabi sungguh berbeda dengan yang kebanyakan kita lakukan. Kita terkadang suka mendorong seseorang mencalonkan diri untuk suatu jabatan padahal sebagai keluarga atau sahabat kita sebetulnya tahu dia memiliki banyak kelemahan. Di banyak tempat kita sering mendengar mereka yang suka “bapatende” (sanjung berlebihan) seseorang karena ada maksud terselubung. Ironisnya orang yang di “patende” kadang menjadi lupa diri hingga akhirnya nekad bertarung dalam kontestasi perebutan jabatan.

Bila kita suka obral “patende” atau mengusung seseorang bukan karena kompetensinya maka sama halnya kita telah menjerumuskan saudara atau kawan sendiri. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengangkat seseorang (untuk suatu jabatan) karena semata-mata hubungan kekerabatan dan kedekatan sementara masih ada orang yang lebih tepat dan ahli daripadanya maka sesungguhnya dia telah melakukan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman” (H.R. al-Hakim).

Memang mencari pemimpin yang sempurna bukanlah pekerjaan mudah. Namun jika dihadapkan pada satu pilihan maka pilihlah calon yang paling sedikit kekurangannya dan lakukan pilihan setelah kita berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan pilihan yang terbaik.

Imam Ahmad Ibnu Hanbal pernah mengalami dilema ketika beliau harus memilih satu di antara dua orang yang dicalonkan menjadi pimpinan pasukan. Dua-duanya punya nilai plus dan minus. Calon pertama orangnya kuat dan disegani. Tetapi kelemahannya dia bergelimang dalam dosa. Calon kedua sebaliknya. Orangnya sangat taat beragama. Tetapi dia lemah dan tidak berwibawa.

Menghadapi pilihan tersebut Imam Ahmad memberikan beberapa pertimbangan. Calon pertama benar dia bergelimang dosa tetapi di akhirat nanti dosanya akan dia pikul sendiri. Sedangkan kekuatan yang dimilikinya akan bermanfaat untuk mendukung kepentingan umat. Berbeda dengan calon kedua walaupun orangnya taat beragama tetapi pahalanya hanya berguna untuk dirinya sendiri. Sedangkan kelemahannya dalam memimpin akan menjadi malapetaka bagi umat yang dipimpinnya.

Pemilukada serentak masih beberapa bulan lagi. Masih ada waktu untuk merenung. Semua terpulang pada hatinurani Anda. Wallahu a’lam bishawab.*

Dari |Desember 5th, 2017|Opini|Komentar Dinonaktifkan pada AMBISI MENGEJAR JABATAN